Rabu, 17 Februari 2010

Islam salah satu peletak dasar konsep technologi

Kemajuan Science dan Teknologi Pra Rainesance
“…….kita telah meremehkan pentingnya masyarakat dan kebudayan Islam selama 800 tahun di Spanyol antara abad ke-8 dan ke-15. Sumbangan Muslim terhadap pemeliharaan pengetahuan klasik selama berabad-abad kegelapan, dan terhadap lahirnya Renaisance telah lama diakui...”
“...mereka (kaum muslim ) juga menafsirkan dan mengembangkannya dalam tradisi peradaban itu dan telah memberikan sumbangan vital di banyak bidang usaha manusia, dalam Sains, Ilmu Bintang (Falaq), matematika, aljabar, Hukum, sejarah, Kedokteran, Farmasi, Optik, Pertanian, Arsitektur, Teologi dan Musik. Averroes (atau Ibnu Rusyd), seperti juga sejawatnya Avicenna (atau Ibnu Sina) dan Rhazes (atau Al Razi) di Timur, telah menyumbang banyak pada studi dan praktek kedokteran, yang hasilnya selama beberapa abad berikutnya dimanfaatkan oleh Eropa...”
“...Kabarnya terdapat 400.000 buku di perpustakaan penguasa Cordoba, yang jumlahnya lebih banyak dari semua buku yang ada di semua negara-negara lain di Eropa. Itu semua terjadi karena Dunia Islam belajar cara membuat kertas dari Cina lebih dari empat ratus tahun sebelum negara-negara non-Muslim Eropa mempelajarinya. Banyak ciri yang dibanggakan Eropa modern sebenarnya berasal dari Kaum Muslimin di Spanyol ....”
(Cuplikan Pidato Pangeran Charles di Sheldonian Theatre, Pusat Pengkajian Islam Oxford, London, 27 Oktober 1993)


Kemajuan teknologi yang dialami pada peradaban ummat manusia selalu di identikkan dengan munculnya abad pencerahan di benua Eropa yang dimulai “gongnya” oleh revolusi Prancis. Kemudian perkembangan teknologi pun berkembang dengan kemunculan revolusi industri di Inggris dan ditemukan serta berkembangnya berbagai bentuk cabang ilmu murni (Fisika klasik, Kimia klasik, matematika ) untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai ke dunia modern sampai saat ini. Namun yang jadi pertanyaan adalah benarkan sebelum masa Rainesance terjadi ummat manusia mempunyai hasil peradaban yang sangat terbelakang?. Secara penelitian sejarah memang dirasa tidak mungkin karena banyak misalnya bangunan – bangunan yang dibangun pada masa pra Raiesance yang mempunyai nilai arsitektur tinggi dan sangat sulit jika pada saat itu teknologi sebgaia hasil peradaban ummat manusia pada saat itu “ terbelakang “. Tulisan ini berusah untuk mengungkap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa pra Rainesance yang memang banyak di dominasi oleh hasil teknologi zaman Kekhalifahan Islam. Harapannya ini bisa menjadi referensi bagi kita untuk mengembangkan teknologi di zaman yang akan datang. Tulisan ini kami sadur dari tulisan Dr. Ing. Fahmi Amhar salah satu peneliti senior di BAKOSURTANAL dan peneliti muda terbaik Inodnesia tahun 2001. Selamat Membaca

Pada bulan Ramadhan seperti saat ini beberapa pihak gemar mengadakan seminar yang terkait dengan astronomi, namun hanya terbatas pada soal hisab dan rukyat hilal. Padahal bidang astronomi pada masa kekuasaan Islam tidaklah sebatas masalah jadwal shalat, arah kiblat, hisab, dan rukyat; namun lebih jauh lagi, menyangkut banyak aspek sains, teknologi, dan industri yang dibutuhkan dalam melayani urusan manusia, serta dalam dakwah dan jihad fi sabilillah. Karena itu, sebagai ilustrasi tentang bagaimana kehidupan para ilmuwan di bawah naungan syariat pada masa itu, bisa kita ikuti kisah menarik berikut, yang dikutip dari buku, Allah Sonne ueber dem Abendland, karya Sigrid Hunke.
Musa bin Syakir diketemukan tewas ketika sedang melakukan aktivitasnya sebagai penyamun. Dia meninggalkan tiga putra remaja. Berita kematiannya sampai kepada Khalifah al-Makmun saat ia sedang meninjau Asia kecil. Segera dia memberikan perintah kepada pejabat di Bagdad agar mengurus anak-anak Musa (Banu Musa), dan di setiap suratnya ia tidak pernah lupa menanyakan keadaan anak-anak asuhnya itu.
Banu Musa diserahkan kepada Yahya bin Abi Mansur untuk dididik. Yahya adalah astronom Khalifah dan ketua Akademi Ilmu Pengetahuan (Baitul Hikmah) yang didirikan Khalifah al-Manshur. Saat itu, di sana al-Khawarizmi sedang menerjemahkan Siddhanta, memperbaiki tabel Ptolomeus, serta menulis bukunya yang monumental, buku tentang ilmu hitung dan persamaan-persamaan matematika: Aljabar.
Di sinilah, langsung di mata ir ilmu, di antara ribuan buku-buku, peralatan yang jarang ditemui, dan di antara percakapan dan debat antar ilmuwan segala bidang, tumbuh dewasalah tiga remaja berbakat itu. Tidak aneh jika di kemudian hari, tiga putra penyamun padang pasir Musa bin Syakir serta anak asuh Amirul Mukminin tumbuh menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.
Muhammad bin Musa, yang tertua, adalah yang paling berpengaruh di antara mereka. Dia menjadi seorang lelaki yang gagah, negarawan yang disegani, dan menjadi kepercayaan Khalifah.
Khalifah al-Makmun telah memerintahkan untuk membuatkan para astronomnya sebuah observatorium di tempat tertinggi di Bagdad, di dekat pintu masuk Syammasiya, untuk mengamati gerakan planet secara sistematis. Dengan pengamatan yang eksak, yang pada saat bersamaan juga dilakukan di Jundisyapur, dan untuk kontrol tiga tahun kemudian diulang di gunung Kasiyum dekat Damaskus, para astronom bersama-sama menyusun apa yang disebut, "Tabel Makmun yang Telah Diverifikasi", yang merupakan revisi total atas tabel astronomi Ptolomeus.
Dengan tabel astronomi yang teliti, orang bisa menentukan posisi suatu tempat (lintang/bujur) dengan mengukur sudut tinggi bintang tertentu pada waktu tertentu. Bintang apa pada waktu kapan akan memiliki koordinat langit yang akan bisa dibaca atau dihitung dari tabel. Dengan posisi yang teliti ini, sebuah kapal bisa bernavigasi di lautan dengan akurat. Kalau dia kapal dagang, dia bisa memperhitungkan kapan dia bisa mengisi kapalnya dengan air, logistik, dan barang dagangan di pelabuhan terdekat. Kalau dia kapal perang, dia akan tahu di posisi mana dia harus mewaspadai patroli atau ranjau musuh.

Sebuah Astrolabium dari Abad 12 M.
Akhirnya, sampai juga saatnya Muhammad bin Musa untuk boleh ikut dalam kampanye pengukuran bumi. Dengan suatu regu astronom, berangkatlah ia ke dataran Sindsyar sebelah barat Mosul. Eratosthenes telah mendapatkan besar keliling bumi untuk pertama kali dengan mengukur sudut sinar matahari.
Kini, para astronom Al-Makmun mencoba metode yang lain. Berangkat dari suatu titik, satu regu berjalan ke utara, satu regu lainnya ke selatan, hingga mereka melihat bintang 'keledai muda'—sebuah bintang kutub—terbit di sini, dan terbenam di sana. Dari jarak antara kedua regu pengamat ini mereka bisa menghitung panjang satu meridian, dan ini dengan ketelitian yang sangat tinggi.
Namun kemudian, mulailah Muhammad bin Musa dan saudaranya membuat nama dengan pengamatan dan hitungan yang mereka lakukan sendiri. Hasil penelitian mereka tidak hanya membayang-bayangi pekerjaan Ptolomeus, namun juga astronom Khalifah yang terkenal: Mawaruzi.
"Saya temukan", demikian kata Al-Biruni seratus lima puluh tahun kemudian, "bahwa di antara hasil penelitan-penelitan ini, orang terutama mengambil hasil dari Banu Musa, dan akhirnya mengikutinya, karena mereka telah menyerahkan segenap kekuatannya, untuk menemukan kebenaran; mereka menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengembangkan metode astronomi serta kecakapan aplikasinya, dan kemudian banyak ilmuwan lain yang menyaksikan, bersedia menjamin ketelitian pengamatan mereka."
Sementara itu, Banu Musa telah meninggalkan observatorium “si tua” Yahya bin Abi Manshur. Muhammad bin Musa kini adalah seorang lelaki mandiri yang perfeksionis. Soal uang, tiga bersaudara itu tidak perlu risau. Mereka kini memiliki observatorium sendiri, di dekat jembatan sungai Tigris di Bab at-Taq. Di sini Muhammad menekuni pengamatan dan perhitungannya dengan penuh dedikasi. Di sini pula ia mengarang karya-karya astronomi, tulisan pertama dalam bahasa Arab tentang hukum transversal yang yang produktif. Dia juga sibuk dengan filsafat, terutama logika, serta menulis karya tentang "sebab-sebab pertama dunia". Dia juga tertarik pada meteorologi dan membuat pengamatan atmosfir. Dia pun bersemangat untuk membuat berbagai konstruksi mekanik, yang merupakan batu loncatan bagi adiknya, Ahmad, yang dalam tulisannya tentang "timbangan cepat" menambah sangat penting dalam astronomi, dan bersama saudaranya menulis tentang pengukuran pada permukaan datar dan sferis, yang oleh Gerhard von Cremona dialihkan ke bahasa Latin sebagai "Buku dari Tiga Bersaudara"—"Libertrium fratrum de geometrica".
Akan tetapi, Muhammad tidak cuma seorang astronom dan matematikawan pengenalan dunia antik. Ahmad adalah seorang insinyur yang piawai dan penemu jenius di keluarga. Sebuah sumber Arab mengatakan, "Pada Ahmad terdapat bakat membuat benda-benda yang baik saudaranya sendiri (Muhammad) maupun orang-orang lain sebelumnya (seperti Heron) tidak pernah sampai, yang sibuk secara mendasar dengan teknik peralatan otomatis yang penuh makna". Bukunya yang sangat tebal tentang "Konstruksi Penuh Makna" bahkan membuat orang Arab yang berbakat teknik pun berdecak kagum.
Inovasinya 'menyulap' komponen-komponen sederhana menjadi banyak sekali peralatan yang baru dan kompleks untuk keperluan praktis, baik untuk setiap ibu rumahtangga modern, atau setiap petani; dia juga membuat permainan teknis untuk hiburan, yang hingga hari ini akan tetap membuat setiap anak-anak gembira.
Ada sebuah bejana yang bisa mengeluarkan sejumlah tertentu cairan, yang di antara kedua keluaran ada waktu jeda; sebuah bejana untuk mengukur berat jenis suatu cairan; sebuah mekanisme untuk mengisi bejana secara otomatis, segera setelah ia kosong; botol, yang sesuai dengan kebutuhan bisa diisi dengan dua macam minuman, dan bisa dituangkan terpisah atau bercampur; lampu yang sumbunya bisa keluar sendiri, atau yang minyaknya bisa menetes sendiri sehingga tidak bisa dimatikan oleh angin; sebuah alarm, yang dipakai pada alat pengairan, yang akan memberikan tanda jika tinggi air tertentu telah tercapai; bermacam-macam air mancur, yang pancurannya selalu menimbulkan bentuk yang berlain-lainan.

Ilustrasi Mesin Pengangkat Air dari Abad 13 M
Tentu saja, Ahmad juga menunjukkan keahliannya dalam dunia astronomi. Dengan Muhammad ia membuat sebuah jam dari tembaga dengan ukuran raksasa. Muhammad menghitung variasi terbit dan terbenam dari beberapa bintang terpenting baik dalam sehari maupun setahun. Ahmad menuangkan hitungan yang sangat rumit dari kakaknya ini pada sebuah alat yang bekerja dengan sangat jenial, yang mengagumkan setiap orang. Dengan takjub, dokter Khalifah, Ibn Rabban at-Tabari berkomentar:

Di depan observatorium di Samara aku melihat alat yang diciptakan Muhammad dan Ahmad bin Musa, keduanya astronom dan insinyur. Alat itu berbentuk sebuah bola dan di atasnya semua gambar-gambar bintang. Alat itu digerakkan oleh tenaga air. Jika di langit yang sesungguhnya suatu bintang tenggelam, maka pada saat yang sama hilang pulalah gambarnya di alat itu, yakni terbenam di bawah suatu garis lingkaran yang menggambarkan horizon. Jika di langit bintang itu terbit kembali, demikian pula di alat itu, gambarnya muncul kembali di atas garis horizon.

"Saudara ketiga yaitu al-Hasan", cerita sumber Arab, "adalah besar dalam geometri. Dia sangat berbakat dan tidak seorang pun mendekati kemampuannya walaupun sedikit. Ingatannya sangat kuat dan ia memiliki kemampuan abstraksi yang luar biasa sehingga mampu menjawab berbagai soal, yang tidak seorang pun sebelumnya bisa memecahkannya. Kadang-kadang ia begitu tenggelam dalam berpikir sehingga dalam suatu konferensi dia bisa tidak mendengar sedikit pun."
Sementara itu, jika ia sedang sibuk dengan suatu soal, terjadilah—seperti ceritanya sendiri—"Aku melihat dunia di depan mataku tiba-tiba menjadi gelap dan aku merasa seperti dalam mimpi."
Namun, tidak cuma dari risetnya Banu Musa menjadi terkenal, melainkan juga dari jasa-jasanya bagi ilmu pengetahuan. Mereka masih relatif muda ketika muncul sebagai sponsor dunia ilmu. Dengan biaya sendiri, mereka mengirim utusan ke Kekaisaran Byzantium untuk mencari tulisan-tulisan tentang filsafat, astronomi, matematika, dan kedokteran. Dengan biaya tinggi, mereka membeli karya-karya Yunani dan menaruhnya di rumahnya di Bab at-Taq di Bagdad. Di sana dan di areal yang didapat sebagai hadiah dari Al-Mutawakkil di Samarra, mereka mempekerjakan satu tim penerjemah yang berasal dari berbagai negeri. Khalifah al-Makmun sendiri yang telah memerintahkan untuk mengumpulkan buku-buku kuno dan mendirikan sekolah penerjemah.
Namun, lebih penting dari kemajuan dan penemuan dalam bidang pengamatan bintang, bahkan lebih penting dari penemuan fisika dan teknik—sekaligus syarat untuk prestasi di kedua bidang ini—adalah pendidikan dari 'alat-alat berpikir' yang mereka ciptakan, serta secara tidak langsung mereka 'siapkan' untuk dunia Barat.
Bangsa Arab—maksudnya rakyat Khilafah—saat itu adalah tokoh-tokoh matematika. Ini berlawanan dengan bangsa Romawi yang dalam bidang ini hanya membawa hasil-hasil yang sedikit, dan itu pun kadang-kadang hasil 'curian'. Ketika bakat matematika yang tinggi dari bangsa Yunani lebih didominasi oleh geometri sehingga aljabar pun mereka bungkus dengan geometri, sedangkan di sisi lain bangsa India murni "tukang hitung" (aritmetikawan), maka pada bangsa Arab kedua hal ini telah berhasil dikawinkan; suatu bakat yang dimiliki oleh Hassan bin Musa.
Dengan kemampuan ini, bangsa Arab membuka banyak cabang pengetahuan baru dan mengembangkannya hingga tingkat kematangan yang tidak pernah dicapai baik oleh bangsa Yunani maupun India. Karena itu, "bukan bangsa Yunani, namun bangsa Arablah guru-guru matematika Rennaisance". Di sini angka India sangat membantu.
Jelas, bangsa Arab amat beruntung mengenal angka India, namun juga beruntung bahwa mereka memahami untuk menggunakannya; tidak cuma sekadar melihat sebagai angka asing yang menarik. Di Alexandria dan Syria, orang sudah lebih dulu mengenal angka India, namun tanpa membuatnya sesuatu yang berarti. Di tangan rakyat Khilafahlah angka ini dalam waktu singkat menjadi alat yang sangat bermanfaat.
Setiap konstruksi, setiap hitungan astronomi atau fisika yang rumit, sangat bergantung pada adanya sistem bilangan yang sempurna. Bangsa Arab terbukti sangat bergairah dalam soal hitung-menghitung. Banyak desain teknik yang tidak pernah direalisasi, karena niatnya memang tidak untuk dibuat, melainkan sekadar untuk bermain hitungan. 'Kegilaan' mereka pada disiplin ilmu terindah, yakni berhitung ini, membawa mereka ke soal-soal aritmetika yang bagi matematikawan besar zaman itu dianggap tidak bisa dipecahkan. Aneh. Sebab, kata aritmetika adalah kata Yunani yang berarti "seni berbuat sesuatu dengan bilangan". Namun, bagi bangsa Yunani yang lebih berbakat spekulasi, hal itu terasa 'luks'. Sebagai 'putra mistik yang telah terdidik', aritmetika Yunani menyibukkan diri dengan teori bilangan, simbolik, deret, dan hubungan antarbilangan—namun tidak dengan hitungan yang bisa dipakai orang di pasar! Aritmetika praktis seperti yang kita pahami sekarang, yang merupakan seni berhitung yang sesungguhnya, justru dimasukkan ke disiplin ilmu yang kurang diminati, yaitu logistik (tentang menata barang konsumsi).
Namun, justru ini medan utama bangsa India. Mereka banyak menghasilkan karya orisinal dan bermutu. Akan tetapi, seperti apa? Apa yang bisa dipakai dari situ? Mereka tidak hanya menuangkan agama dan filsafatnya ke dalam bentuk puisi. Bangsa lain, bahkan bangsa Arab juga seperti itu. Namun, bangsa India juga menuliskan ilmu astronomi dan matematika dalam bahasa misterius yang hanya bisa dipahami kalangan Brahmana saja.
Baru bangsa Arab—sekali lagi, mereka adalah rakyat Khilafah—yang berpikir cerah, praktis, dan presisi; mengolah semua itu ke dunia yang jelas. Barulah lewat Al-Khawarizmi aritmetika dibuka, baik untuk keperluan sehari-hari maupun dunia ilmu, serta dikembangkan secara sistematis. Dengan tambahan dari matematikawan Muslim selama beberapa abad, berkembanglah ia menjadi landasan aritmetika, dan nama Al-Khawarizmi diabadikan untuk menyebut 'sekumpulan perintah yang logis dan runtut'—'algoritma'—yang tanpa itu dunia komputer atau informatik tidak akan bisa dibayangkan; terutama aljabar, yang juga untuk pertama kalinya disusun al-Khawarizmi ke dalam suatu sistem, bangsa Arab menjadikannya ilmu pasti. Dari aljabarlah Abu Kamil, al-Biruni, Ibnu Sina dan al-Karaji, dan Leonardo de Pisa menggali pengetahuannya tentang persamaan kuadratis dan kubis, yang lalu ditulis di bukunya, Liber abaci.
Bangsa Arab juga menemukan hitungan dengan angka pecahan desimal (hitungan "di belakang koma"). Astronom al-Kajilah yang pertama kali menuliskan angka 210/125 sebagai 2,08—suatu prestasi, yang tanpa itu tentu dewasa ini baik seorang penjual susu maupun ilmuwan akan mengalami kesulitan serius, dan bahkan hitung logaritmik pun akan menjadi mustahil.
Hingga saat ini, wajah aljabar kita ditandai oleh suatu ciri Arab: huruf x untuk tercari dalam suatu persamaan. Huruf ini, yang sering diikuti y untuk tercari kedua dan z untuk ketiga—murni urut alfabet—telah masuk ke khazanah Barat secara tersembunyi sehingga sulit dipercaya bahwa ia berasal dari Arab, apalagi di alfabet Arab tidak ada huruf x. Sesungguhnyalah, 'benda' yang dicari itu dalam bahasa Arab disebut 'syai', atau disingkat 'sy' (huruf syin). Bunyi huruf ini dalam bahasa Spanyol kuno ditulis dengan huruf x. Lalu belajarlah kita, paling lambat di SMP, dengan 'benda' Arab yang diberi 'pakaian' Spanyol.
Tujuh ratus tahun sebelum orang Inggris Newton dan orang Jerman Leibniz, dua ilmuwan Muslim sudah memikirkan hitung diferensial. Mereka adalah seorang dokter dan filosof Ibnu Sina (980-1037) alias Avicenna, serta teolog al-Ghazali (1053-1111) alias Algazel. Ibnu Sina, yang pada usia sepuluh belajar aritmetika India pada seorang pedagang arang, tumbuh menjadi matematikawan dan astronom yang sangat produktif dan kreatif. Dia memperkaya seluruh cabang ilmu pengetahuan, 'yang sebelumnya tidak ada orang yang sampai ke sana'. Di antaranya dia mengungkapkan adanya problem besaran yang tidak terhingga kecil, baik dalam agama maupun fisika dan matematika; suatu hal yang pada abad-17 mengantarkan Newton dan Leibniz pada infinitesimal dan kemudian membentuk ilmu kalkulus.

Al-Farabi (870-950), yang sering dijuluki 'guru kedua' setelah Aristoteles, adalah filosof dan matematikawan terkemuka serta musisi jempolan. Dia terkenal akan ide-idenya serta debatnya yang selalu berhasil dengan para ilmuwan di Damaskus, yang dengan ini ia bisa menghibur para pemuka masyarakat. Dia juga terkenal dengan kuliah-kuliah musiknya tentang Canun, suatu jenis Harfa yang ia temukan, yang dengan itu, publikumnya yang panas bisa ditenangkan, dan pendengar yang capai bisa disegarkan. Kesibukannya dengan teori musik, akord, dan interval membawanya ke ide logaritma, yang ia tulis dalam bukunya, Elemen-elemen Seni Musik.
Demikianlah, cuplikan buku Hunke yang secara obyektif mengungkap kembali berita-berita dari orang Barat pada masa pra Rainesance yang didominasi oleh peradaban Islam.
Berita-berita ini bisa diuji-silang dengan benda-benda sejarah yang disimpan di museum, atau juga dengan bangunan-bangunan fisik, yang sampai hari ini masih bisa disaksikan. Di berbagai museum besar Dunia Islam, terutama di Kairo, Damaskus, Bagdad, dan Istambul, benda-benda seperti dokumen penting negara, senjata, hingga alat-alat ilmu pengetahuan masih bisa disaksikan. Hanya saja, untuk Bagdad, serbuan tentara Amerika ke Irak baru-baru ini telah ikut memusnahkan bukti historis yang tidak ternilai ini. Sebagian benda sejarah ini juga barangkali akan diangkut ke museum-museum di Barat, seperti di Leiden (Belanda), Paris, atau New York; sebagaimana sudah berkali-kali terjadi selama ini

Dari tulisan diatas dapat kita tarik makna bahwa sebenarnya sebelum Rainesance peradaban ummat manusia telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat mendalam. Lalu dapat dilihat bahwa hasil dari peradaban yang mereka tinggalkan dan kembangkan dimasanya mempunyai dampak yang sangat positif bagi masyarakat dan kemajuan kehidupan saat itu serta pada generasi yang akan datang. Semoba melalui tangan kita, sains dan teknologi sekarang ini dapat bermanfaat untuk generasi yang akan datang.
Ini menunjukkan bahwa lingkungan (mileu) yang kondusif akan merangsang pertumbuhan anak-anak berbakat. Dewasa ini, distribusi anak-anak berbakat di mana-mana sebenarnya merata, namun mileu yang cocok untuk itu lebih banyak berada di Amerika, Eropa, atau Jepang.
Pada zaman modern, tabel astronomi ini dibuat bersama-sama oleh hampir seluruh observatorium di dunia, dan dipublikasikan secara sentral, misalnya The Astronomical Almanach yang dikeluarkan oleh International Astronomical Union (IAU). Pada masa lampau, ketika belum ada radar, radio dan navigasi satelit, tabel astronomi dan chronometer (jam teliti) adalah satu-satunya alat navigasi bagi pelaut. Sekarang ini navigasi dilakukan dengan GPS, namun satelit GPS sendiri bernavigasi secara astronomis dengan alat pelacak bintang (star-tracker).
Mungkin mereka mendapatkan banyak donasi riset dari kaum aghniya di Daulah Khilafah, seperti halnya dewasa ini di Amerika dari Ford Foundation atau Rockefeler.
Mungkin seperti alat pengisi botol otomatis pada ban berjalan.
Bejana ini berada di suatu alat penimbang, sehingga begitu cairan dituang pada bejana dengan volume tetap, segera diketahui berat jenisnya, yang merupakan berat dibagi volume.
Botol dengan dua ruang di dalamnya.
Ini konsep dasar lampu petromax.
Konsep dasar pelampung pada bak mandi yang sekaligus klep untuk kerannya. Bila air penuh, keran mati sendiri.
Alat seperti ini saat ini menjadi standar hampir pada setiap observatorium. Dengan teknik ini, maka arah teleskop bisa dibuat mengikuti gerakan bintang yang sedang diamati.
Al-Mutawakkil berkuasa antara tahun 847-861 M
Tradisi ini di abad modern justru lebih banyak dilakukan oleh Belanda (untuk buku-buku kuno Indonesia) atau Amerika Serikat (untuk buku-buku kuno dari seluruh dunia). Banyak peneliti Indonesia kuno yang justru mendapatkan manuskrip kuno semacam kitab dari zaman Majapahit di museum di Belanda.
Pada abad modern, beberapa jenis deret bilangan, seperti deret Fibbonacci, deret Taylor dsb., banyak berguna dalam komputasi numerik fungsi-fungsi trigonometri atau mencari nilai logaritma di komputer, tapi jelas bukan untuk aktivitas sehari-hari.
Ungkapan Sansekerta (India) yang dijumpai di Indonesia misalnya, "Turonggo Tinitihan Sesekaring Bawono," yang artinya adalah angka 1979.
Dari sebuah sumber diriwayatkan bahwa Al-Khawarizmi mendapat ide untuk menuliskan hitungan aritmetika dalam persamaan aljabar ketika ia harus menghitung masalah pembagian waris (al-Faraidl) menurut hukum Islam.
Karena pertama kali dipelajari orang Barat di Andalusia.
Mungkin semacam "talk-show" pada zaman modern.
Perbandingan frekuensi nada berurutan = (ln 2)/12.
Tags: islam, sains, teknologi
Prev: Antara Engineering Physics dan Physics Engineering

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar