Jumat, 19 Februari 2010

URBANISASI PASCA LEBARAN

URBANISASI PASCA LEBARAN

Disusun Oleh :
Nama/NPM/Kelas : SUGIANTO/364 099 42/1ID05
ILMU SOSIAL DASAR
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2009




DAFTAR ISI
BAB I (Pendahuluan)
1,1 Pendahuluan
1,2Tujuan
1.3 Sasaran
BAB II (Permasalahan)
2.1 Kekuatan (strength)
2.2 Kelemahan (weakness)
2.3 Peluang
2.4 Tantangan
BAB III (Kesimpulan dan Rekomendasi)
1.Kesimpulan
2.Rekomendasi
REFERENSI










1,BAB 1
1.1 Latar Belakang
Pengertian & Definisi Urbanisasi : Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.
Hal yang menjadi latar belakang pada terjadinya Urbanisasi Pasca Lebaran dikarenakan adanya pengaruh-pengaruh atau ajakan dari orang-orang yang merantau kekota, khususnya Ibukota Jakarta, Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik.
Di bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke perkotaan.
A. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi
1. Kehidupan kota yang modern dan mewah
2. Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap
3. Banyak lapangan pekerjaan di kota
4. Di kota banyak cewek cantik dan cowok ganteng
5. Pengaruh buruk sinetron indonesia
6. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan berkualitas
B. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi
1. Lahan pertanian yang semakin sempit
2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5. Lapangan pekerjaan yang terbatas.
Tetapi dari kenyataan yang ada ,seperti diterminal-terminal,di stasiun,masih kita lihat kurangnya ketegasan para polisi dan aparat yang bertugas untuk mengawasi para pendatang yang tidak punya Keahlian bahkan tanpa Tanda pengenal, sehingga banyak dari mereka yang lolos dari jaringan Para Aparat penegak hukum.dan akhirnya mereka bisa dengan mudah masuk dan tinggal di Ibukota.
1.2 Tujuan
Tujuan yang terjadi dari peristiwa ini adalah enaknya kehidupan di Ibukota, padahal kalau kita telusuri dengan cermat, banyak para pelancong dari desa menjadi tuna wisma dan hidup susah, padahal keinginan mereka hidup di Jakarta atau kota-kota besar lainnya hanya untuk sukses, namun hanya beberapa orang saja yang punya keahlian dan tekat yang pantang menyerah yang sukses dan berhasil, kenyataannya banyak dari mereka (hampir 65% para perantau) mengalami kehidupan yang lebih susah (dibawah garis kelayakan hidup) diIbu kota dari pada di pedesaan.
Padahal jikalau kita merencanakan program-program yang berguna bagi desa (seperti program desa siaga), mungkin desa akan makmur dan tujuan dari orang-orang tersebut bisa terpenuhi secara Layak, karena masih banyaknya SDA yang belum dimanfaatkan sebaik-baiknya, kurangnya Teknologi dan SDM yang baik didaerah pedesaan.

Dan tujuan lainnya untuk menghimbau kepada para perantau tersebut untuk tidak terlalu percaya perkataan orang-orang dan media elektronik maupun massa yang menyatakan bahwa hidup di perkotaan enak dan jangan mudah tertarik jika diajak orang (terlebih saudara) untuk bekerja disana, karena baik di kota maupun di desa mencari uang bukan hal yang mudah, masih banyaknya bukti-bukti bahwa perusahaan itu hanya mampu mengontrak dan lebih parahnya lagi gaji kita mungkin dibawam UMR (Upah Minimum Regional).
1.3 Sasaran
Hal yang menjadi sasaran para pelancong biasanya orang-orang yang baru lulus dari sekolah menengah, baik dasar (SMP) maupun atas (SMA atau SMK), merka diceritakan bahwa enak hidup di kota, padahal kenyataannya sangat pahit sekali.
Dan saya membuat tulisan artikel (makalah) ini agar mastarakat desa sadar bahwa hidup di kota tidak semudah yang mereka pikiran, bahkan lebih parah daripada hidup di desa, nah lewat tulisan (makalah) inilah saya akan ungkapkan apa saja yang terjadi jika anda berurbanisasi, apalagi pasca Lebaran dimana banyaknya orang yangingin mengadu nasib di Ibukota.











2.BAB II
PERMASALAHAN
Ada hal-hal yang menjadi permasalahan pada setiap peristiwa, dalam hal ini adalah peristiwa Urbanisasi. Kesempatan mendapatkan pekerjaan di perkotaan membuat banyak orang melakukan migrasi dari desa ke kota, hal ini banyak pepatah yang mengatakan bahwa “Aroma kota bagaikan penarikan perhatian para pelancong-pelancong muda” atau “ Aroma sedap dapat mengundang para orang-orang yang lapar”, itulah yang menjadi semboyan bagi para urbanisme yang baru dating ke kota, nah dalam hal ini saya akan menjelaskan bagaimana dampaknya peristiwa Urbanisasi ini apa lagi pasca lebaran saat lalu dengan menggunakan metode SWOT (Stregth (Kekuataan), Weaknees (Kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (Tantangan).
2.1 Urbanisasi dilihat daru segi Kekuatannya(Stregth)
A.Banyak dari orang desa melihat bahwa hidup di kota atau daerah-daerah yang sudah maju istilahnya, itu mengasyikan dan juga enak, karena mereka melihat di media cetak maupun media elektronik bahwa hidup di kota itu bisa menjadi kaya dan sukses, hal ini tersebut dibuat oleh orang-orang tersebut untuk pergi ke kota, baik itu Jakarta, Bandung, maupun kota-kota besar lainnya, tetapi kebanyakan orang tertarik kepada Ibukota Negara Indonesia, Jakarta.
Hal ini pula juga berpengaruh kepada pendapatan (income) DKI Jakarta dari tahun ke tahun , dikarenakan banyak para perantau ini yang sukses karena mereka memiliki keahlian dan juga kepintaran diatas rata-rata orang, apa lagi ketika arus balik mudik pasca lebaran, banyak orang-orang atau saudara untuk bekerja di kota karena mereka bercerita bahwa hidup di kota enak, mereka bisa mendapatkan barang-barang pokok itu sangatlah mudah, daripada di pedesaan, mencari barang-barang pokok saja sudah susah, harus menunggu panen, agar bisa membeli barang-barang tersebut denga murah, hal itulah mereka mengajak para saudaranya yang baru lulus sekolah ataupun yang tidak punya pekerjaan diajak untuk bekerja ke kota, sehingga pada pasca lebaran tahun ini banyak sekali orang-orang yang membawa sanak keluarganya hanya untuk mencari uang di kota (bekerja) baik itu sebagai buruh, pegawai kantor maupun salesman, bahkan kekuatan dari Urbanisasi inilah membuat banyaknya orang-orang beramai-ramai
datang ke Jakarta, bahkan ketika orang-orang mudik ada juga yang berurbanisasi ke kota, menurut pengamatan yang saya lakukan selama beberapa Lebaran berturut-turut ketika lebaran tahun ini, mereka kebanyakan menjadi peminta-minta, penukar uang kecil, ataupun lainnya yang dimana banyaknya daerah wisata seperti Ancol, atau Monas yang didatangi oleh orang-orang yang malas mudik, jadi istilah urbanisasi pasca lebaran itu terjadi baik sebelum lebaran maupun lebaran itu sudah lewat, karena banyaknya peluang untuk mencari keuntungan pasca lebaran berlangsung.
B. Selain itu pula selama arus balik banyak diantara perantau tersebut menyatakan bahwa “saya akan sukses dan berhasil disini, karena saya dengar hidup di Jakarta itu enak sekali !”,. Dan apalagi banyaknya peluang kerja yang menjadi target utama para perantau tersebut, sehingga mereka berpendapat bahwa perkataan orang-orang tentang bekerja di kota itu enak adalah benar.
Nah itulah kekuatan dari urbanisasi pasca lebaran yang lalu, banyak orang-orang yang tadinya mudik sendirian, ketika balik mereka mengajak sanak keluarganya, alasanya bahwa saya lebih enak di kota, karena kalau di desa saya tidak punya penghasilan apa-apa, paling-paling hanya duduk diam dan menggarap sawah sendiri maupun orang lain dan itupun penghasilannya untuk makan sehari-hari saja, tidak untuk masalah yang akan datang , itulah kenapa banyak sekali para perantau yang datang ke Jakarta dan hal ini pula yang membuat perekonomian dan aktifitas pekerjaan di DKI Jakarta meningkat.
2.2 Urbanisasi dilihat dari segi Kelemahannya (Weaknees)
Banyak kelemahan yang terdapat pada urbanisasi pasca lebaran, dari tahun ke tahun banyak dari para perantau tersebut yang mengalami depresi ketika pulang ke kampong halamannya (mudik) pada waktu lebaran, walaupun ada pula yang senang ketika mudik dengan tidak memperlihatkan wajah yang cemberut atau sedih, karena hari itu adalah hari lebaran, hari kegembiraan bagi umat Islam, sehingga mereka tampak senang, walau dihati mereka malas balik ke kota, mereka harus balik ke kota untuk mencari uang.
Hal ini saya perhatikan ketika menonton di televisi, banyak orang mudik setelah seminggu lebaran, tetapi banyak dari mereka yang kecewa karena tiket untuk mudik masih sama harganya pada waktu sebelum lebaran, terlaru berharap terlanjur kecewa, iulah pepatahnya.
Seperti yang saya katakana di kekuatan urbanisasi pasca lebaran, banyak dari mereka yang tergiur dengan kehidupan kota yang mengasyikan, namun kenyataannya didaerah pinggiran perumahan yang biasanya menjadi tempat kontrakan para buruh pabrik dan juga mereka beanggapan bahwa
hidup di kota bisa sukses, namun kenyataanya meralka dihadapkan dengan masalah yang lebih berat lagi dibandingkan masalah yang dihadapinya di desa, mereka harus bekerja pagi pulang sore (untuk buruh) dan jikalau terjadi kesalahan pada pekerjaan kita, kita harus menanggung semua biaya dari kesalahan tersebut dengan pemotongan gaji, hal ini disebabkan karena tidak adanya kesiapan dari mereka yang bekerja di Ibukota.
Banyak hal yang ada pada kelemahan urbanisasi pasca lebaran, mereka mengambil moment lebaran untuk bisa pegi ke Ibukota, sehingga Ibukota DKI Jakarta bertambah padat saja, padahal pabrik-pabrik industri adanya disekitar pinggiran kota, bukannya di Ibukota, mereka beanggapan di Ibukota banyak pabrik-pabrik, nyatanya hanya kantor-kantor redaksi yang menerima lulusan minimal S1 (Strata 1/ Sarjana 1), tetapi orang-orang desa hanya mungkin lulusan maksimal SMA, jadinya hanya bisa jadi buruh saja.
Dan juga urbanisasi pasca lebaran membuat para perantau tersebut mengalami kesusahan, yang tadinya dari kampung membawa uang, setelah di kota menjadi pemulung tidak ada uang atau pedagang asongan, sehingga mereka malu kalau pulang tidak bawa uang, mereka menetap di Ibukota jadi tuna wisma tidak berumah.
Selain itu jikalau kita lihat dari sudut pandang arus balik, bisa dapat dipastikan bahwa urbanisasi pasca lebaran tahun ini meningkat 2,5%, karena dilihat dari banyaknya pemudik yang mudik dibandingkan banyak pemudik yang balik, dan apalagi masalah pertama yang dihadapi para perantau pasca lebaran yaitu arus balik yang menyesakan, karena jikalau kita naik kereta api ataupun kapal laut akan berdesak-desakan, dan kalau naik bus akan terkena macet yang sangat panjang, bagus kalau busnya AC, kalau patas pastilah kepanasan menunggu, dan apagi jika naik pesawat tiketnya kemahalan.
Wah pastilah repot jikalau urbanisasi apalagi pasca lebaran yang dimana harga tiketnya 2-3 kali lipat dari harga standar, itulah masalah-masalah yang akan dihadapi jikalau urbanisasi dan lagi itu adalah kelemahan sejati urbanisasi pasca lebaran yang mungkin tidak dapat diubah dari waktu ke waktu.


2.3 Peluang urbanisasi pasca lebaran
Banyaknya peluang yang ada pada peristiwa urbanisasi pasca lebaran, diantaranya digunakannya moment sebelum lebaran oleh para pemalas untuk dating ke kota-kota besar sebagai peminta-minta, karena moment tersebut diadakan setahun sekali dan dimana jikalau jita bersedekah kepada orang miskin, akan mendapatkan pahal yang berlipat ganda.
Namun tidak hanya peluang para orang-orang malas yang menjadi pengemis, adapula orang yang datang ke kota-kota besar yang tujuannya adalah tempat wisata, seperti Ancol, Puncak, TMII dan lain-lain. Mereka berjualan didaerah tersebut demi mendapatkan untung yang berlipat dikarenakan banyak para pedagang didaerah yersebut yang mudik, sehingga para perantau tersebut memanfaatkan moment yang meguntungkan ini, tetapi hal ini menjadi masalah, banyak diantaranya pedagang baru ini tudak tahu tata tertib kebersihan, sehingga objek wisata tersebut mengalami kekotoran yang luar biasa.
Peluang yang terjadi pada urbanisasi ini Cuma berlangsung hanya beberapa hari saja, paling lama juga 2 minggu ketika pasca libur bersama mulai berakhir yang telah ditetapkan Pemerintah pusat ataupun daerah.Nah dalam waktu yang singkat itulah terjadi urbanisasi dengan skala bidang menengah, mungkin sekitar 25% dr jumlah seluruh warga Ibukota yang mudik, namun hal ini pula yang membuat jengkel para orang-orang di kota-kota yang tidak mudik, karena bedanya sifat-sifat orang-orang tersebut dengan orang-orang biasanya.
Menurut data yang saya lihat di internet, hamper sekitar Rp 150.000-Rp 300.000 perhari keuntungan yang didapat oleh para pengemis dan pedagang asongan tersebut, padahal jikalau dihari biasanya pengemis dan pedagang tersebut hanya mendapat untung sekitar Rp 5.000-Rp 30.000 saja perhari, sedangkan pada pasca lebaran naik menjadi sekitar 20 kali lipatnya, bukankah itu nilai yang cukup fantastis.
2.4 Tantangan pada urbanisasi pasca lebaran
Tantangan yang ada pada urbanisasi pasca lebaran yaitu tantangan yang diterima para perantau setelah usai lebaran, hal ini dikarenakan mulai aktifnya para pegawai baik pemerintahan maupun swasta.
Hal-hal yang menjadi tantangan bagi parra perantau adalah susahnya mencari uang di Ibukota, karena banyaknya para perusahaan yang tidak terlalu memerlukan para perantau tersebut, para perusahaan mengkontrak
6
mereka dengan batas waktu yang ditetapkan, dan apalagi jika lebih parahnya lagi, para perantau tersebut harus membayar kerugian perusahaan dengan uangnya sendiri atau pemotongan gaji yang diterima seperti yang saya jelaskan di subbab kelemahan jika kita tidak giat bekerjanya dan melakukan kesalahan yang sangat fatal bagi pendapatan perusahaan tersebut.
Tantangan urbanisasi ke Ibukota cukup susah, karena selain pintar, mereka harus memiliki daya juang yang tinggi dan juga mereka harus rajin mempekerjakan semua pekerjaannya yang diperintahkan atasan dengan tidak boleh mengeluh jikalau mendapatkan pekerjaan yang berat. Itulah tantangan yang harus dimiliki para perantau tersebut, namun juga jangan keenakan bagi perusahaan memberi gaji pegawai atau buruh dengan memberi pekerjaan yang tidak sesuai dengan gajinya (pekerjaan yang berat), yakni dimana pegawainya digaji rendah dengan gaji dibawah UPM (Upah Pekerja Minimum), biasanya UPM didaerah DKI Jakarta seklitar Rp 1.250.000.
Bukanya para perantau yang mendapat tantangan, hal ini juga bisa ditujukan kepada Pemerintah daerah khususnya DKI Jakarta, karena pertambahan jumlah penduduk DKI Jakarta dari tahun ke tahun naik, apalagi banyak para perantau yang datang ke Jakarta ketika arus balik tiba, padahal Pemda Jakarta melarang orang-orang tersebut datang ke Jakarta, namun apa dikata 1 pegawai harus memperhatikan 1000 orang? Itu hal yang mustahil bukan!, apalgi dengan memeriksa KTP setiap orang yang datang ke Jakarta, wah itu sangat merepotkan sekali, oleh sebab itulah hal ini adalah tantangan bagi Pemda untuk menghimbau masyarakat pedesaan agar tidak datang ke Jakarta

A. Kekuatan
Kesimpulan yang telah saya buat dari pengamatan urbanisasi pasca lebaran diantaranya :
a. Banyaknya informasi yang menyatakan bahwa hidup di kota-kota besar mengasyikan dan menyenangkan.
b. Jikalau bekerja di kota –kota besar, akan sukses.
c. Banyaknya peluang kerja yang mungkin di dapat oleh para perantau tersebut dengan modal keberanian saja.
d. Meningkatnya pendapatan APBD Pemda kota-kota besar, dikarenakan pembayaran pajak dan lain-lain.
e. Mudahnya mendapatkan keuntungan besar jikalau bekerja di kota-kota besar.
Nah cuma itu saja kesimpulan dari kekuatan urbanisasi pasca lebaran
B. Kelemahan
Hal-hal yang menjadi kelemahan urbanisasi yang dapat saya simpulkan diantaranya :
a. Tidak adanya lapangan kerja yang memadai, hal ini bertolak belakang dengan pemikiran para perantau tersebut.
b. Susahnya mencari tempat tinggal yang nyaman dan murah, didaerah tersebut biasanya mencampai harga Rp 500.000/bulan untuk rumah seluas 2,5m x 4m.
c. Banyaknya para perantau yang menjadi pengangguran di kota-kota besar.
d. Banyaknya perusahan yang tidak mau menanggung rugi jikalau pegawai tersebut mengalami kesalahan dalam pekerjaanya, dengan menyuruh pegawai tersebut mengganti seluruh kerugian yang telah diperbuatnya.
e. Repotnya datang ke kota-kota besar dengan naik kendaraan umum yang menjadi kendaraan khusus bagi para penumpang yang tidak terlalu memiliki banyak budget (uang) dalam perjalanannya.
Itulah yang dapat saya simpulkan.
C. Peluang
Hal-hal yang menjadi peluang pada urbanisasi pasca lebaran diantaranya yaitu:
a. Banyaknya keuntungan yang didapat jikalau berdagang dan meminta-minta pada moment 3 hari sesudah dan sebelum lebaran.
b. Banyaknya pekerjaan yang ada dalam kurun 2 minggu tersebut, karena banyaknya pegawai-pegawai swasta yang mudik, hal ini dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan sementara (musiman).
c. Kurangnya pengawasan terhadap daerah kota-kota besar, sehingga dimanfaatkan untuk menjadi pengemis di daerah umum.
Itulah hal-hal yang dapat saya simpulkan.

D. Tantangan
Hal-hal yang menjadi tantangan dalam urbanisasi pasca lebaran diantaranya :
a. Banyaknya persaingan untuk mencari pekerjaan di kota-kota besar.
b. Harus adanya keahlian dan kreatifitas khusus yang harus dimiliki oleh para pekerja tersebut.
c. Harus adanya persiapan jikalau mendapatkan pekerjaan yang berat.
d. Harus adanya persiapan jikalau dikontrak kerja oleh perusahaan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
e. Harus telitinya para Pemda disekitar kota-kota besar dengan mensiagakan datangnya para perantau tersebut ke kota-kota besar seperti DKI Jakarta.
Nah itulah yang dapat saya simpulkan.





















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan yang saya nyatakan di bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa urbanisasi pasca lebaran tersebut disebabkan oleh beberapa factor pendorong dan penarik diantaranya impian sukses di Ibu kota ,dengan jumlah pendatang yang tiap tahunnya makin meningkat maka permasalahan yang timbulpun semakin banyak dan kompek.
3.2 Saran
Ada beberapa saran yang mungkin akan dilaksanakan demi kepentingan bersama, ya walaupun belum tentu kritik dan saran ini ini diterima dengan sukarela dikarenakan kurangnya budget yang didapat dari Departemen Sosial dan Kebudayaan Indonesia.
Inilah kritikan dan saran yang saya buat :
a. Harus adanya kesadaran para perantau tersebut, karena sudah banyak buktinya bahwa hidup diperkotaan tidak semudah yang mereka pikirkan, mereka harus memiliki keatifitas yang tinggi.
b. Diperluhkannya penjelasan bahwa hidup di kota tidak semudah yang dipikirkan, penjelasan tersebut bias berupa gambar, cerita, ataupun acara panggung kesenian yang sering diadakan oleh televise swasta dan pemerintah.
c. Kurang tegasnya pegawai Pemda, karena kurangnya kesadaran yang ada pada pegawai pemerintahan tersebut.
d. Diperluhkannya pegawai Pemda tambahan disekitar daerah perkotaan, terutama di stasiun dan terminal, agar dapat dikontrol perkembangannya.
e. Pelu adanya kebijakan pemerintah agar para perantau yang menjadi pengemis dan yang tidak sukses dipulangkan ke kampong halamannya, namun kalau tidak mau dibuatkanlah kamp pengungsian bagi para pengemis tersebut dan melatihnya dengan keterampilan yang membut mereka tidak malas.
f. Perlu adanya fasilitas yang lengkap didaerah pedesaan.
g. Adanya perintah umum bagi masyarakat pedesaan agar tidak menjual sawah-sawahnya.
h. Perlu adanya sekolah-sekolah menengah kejuruan didaerah-daerah khususnya wilayah pedesaan disekitar Jawa timur ,jawa tengah,Klimantan, Sulawesi, dan Papua.
i. Ditanamkannya rasa cinta kepada kampung halamannya sendiri semenjak kecil.
j. Memasukan teknologi disekitar daerah-daerah pedesaan yang belum mengerti istilah teknologi tersebut. k. Pemerintahan daerah-daerah supaya lebih focus untuk membuka lapangan kerja yang luas,meningkatkan Qualitas SDM ,SDAdan support terhadap perkembangan Industri di daerah tersebut..
Nah itulah yang dapat saya sarankan, jika saya keterlaluan dalam memberi saran, saya mohon maaf.
Seperti yang saya katakan di bab ini, permasalahan dan saran yang terdapat pada urbanisasi pasca lebaran sangatlah banyak, itulah kenapa Pemda kebingungan menghadapi masalah setahun sekali ini, karena pertambahan penduduk di Indonesia yaitu 7% pertahun, jumlah yang fantastic buakan?.
Nah berhubung saya sudah jelaskan peristiwa –peristiwa ini, maka saya tutup makalah ini Saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna ,dengan gembira dan mengucap syukur kepada Tuhan YME, dan jika ada kata-kata dan kalimat yang salah dalam penulisannya dan perkataan saya mohon maaf.
REFERENSI
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/urbanisasi-pasca-lebaran/
premasai.wordpress.com/2007/10/.../urbanisasi-pasca-lebaran/ -
ramadhan.antaranews.com/.../laju-urbanisasi-pascalebaran-akan-meningkat -

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar