Jumat, 19 Februari 2010

PERKEMBANGAN TERKINI PENATAAN VARIETAS TEBU DI INDONESIA

PERKEMBANGAN TERKINI PENATAAN VARIETAS TEBU DI INDONESIA

Program akselerasi peningkatan produksi dan produktivitas gula Nasional diarahkan untuk memperbaiki komposisi perbandingan tanaman pertama (plant cane) dan tanaman keprasan (ratoon) menjadi seimbang, yaitu ratoon tidak lebih dari 3-4 kali. Untuk itu diluncurkan program rehabilitasi tanaman ratoon panjang dengan istilah bongkar ratoon dengan dukungan penyediaan bibit tebu varietas unggul dalam jumlah yang cukup dan terjamin mutunya. Bantuan program melalui dana APBN disalurkan dalam pola Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) dengan model guliran yang diharapkan akan membantu petani merehabilitasi tanaman tebunya, serta pada saatnya terjadi penumpukan modal usaha dalam membangun kelembagaan usaha tani tebu rakyat yang lebih kokoh.

Secara teknis, strategi yang ditempuh adalah pelaksanaan bongkar ratoon dengan menggunakan bibit bermutu dari varietas unggul yang direkomendasi. Fasilitasi pendanaan APBN diarahkan untuk mengatasi kesulitan petani tebu dalam pembongkaran tanaman ratoon, pembangunan kebun bibit dan bantuan pengairan sederhana.

Pada tahun 2008 telah dilaksanakan pembangunan kebun bibit berjenjang KBP, KBN, KBI dan KBD. Sementara itu dari hasil monitoring dan evaluasi kegiatan di lapangan pada tahun 2008 diperoleh hasil sebagai berikut:

Jawa Timur
Lebih dari 95% tanaman tebu di Jawa Timur dikelola oleh rakyat dan program pembangunan kebun bibit telah mampu ditangani pada tingkat benih sebar (KBD) yang dilaksanakan oleh kelompok tani tebu rakyat. Pada tahun 2008 melalui koperasi Primer (Koperasi Usaha Bersama Rosan Kencana) telah diuji coba pengelolaan bibit sejak KBN dengan pengawalan dari P3GI Pasuruan. Komposisi varietas yang ditanam lebih dari 99% merupakan varietas bina dengan dinamika perubahan varietas yang sangat cepat, khususnya di wilayah Kediri dan Sidoarjo. Sementara itu di wilayah Jember, Lumajang, Malang dan Blitar masih didominasi BL, dan wilayah Jombang dan Mojokerto didominasi PS 864.

Varietas yang banyak berkembang di Jawa Timur adalah BL, PS 864, PS 862. Varietas baru PSJT 941, Kidang Kencana/KK, PS 881, PS 882 dan Kentung/KT mulai banyak diminati petani. Kendala utama bahwa ketersediaan bibit varietas baru masih dalam jenjang bibit di Pusat Penelitian yang setara benih penjenis (KBPU). Oleh karena itu apabila harus menunggu proses penjenjangan, maka ketersediaan bibit untuk petani (KBD) akan sangat terlambat. Dengan pola pemuliaan partisipatif dimana adaptasi dan demo varietas telah dilaksanakan di kebun petani, sehingga sumber bibit varietas baru justru telah tersedia di petani. Namun karena tidak dilakukan penjenjangan yang benar, maka antar petani tejadi penjualan bibit varietas baru eks kebun percobaan tanpa adanya penilaian kelayakannya. Oleh karena itu perlu regulasi terbatas agar sasaran peredaran bibit di tingkat petani tetap terawasi dengan mutu, kemurnian dan kesehatan yang baik.

Kelompok tani pembenih tebu profesional banyak berkembang di wilayah Kediri, Jombang, Mojokerto dan Sidoarjo yang mampu melayani kebutuhan bibit di wilayah Jawa Timur lainnya, tetapi juga melayani wilayah Jawa Tengah selatan dan timur, atau sampai ke wilayah Yogyakarta. Pada tahun 2008 bahkan juga melayani kebutuhan di wilayah Jawa Barat. Oleh karena itu pembinaan di tingkat petani pembenih perlu diperkuat dengan regulasi yang mampu memberikan ruang gerak pembenih lebih tepat sasasaran untuk menyediakan bibit bersertifikat. Perlu dipikirkan adanya perubahan konsep penjenjangan benih tebu menjadi klas benih untuk kesetaraan benih pokok dan benih sebar.

Besarnya kebutuhan pelayanan bibit atas varietas unggul yang baru dilepas (PSJT 941, KK, KT, PS 881 dan PS 882), dimana sebagian besar berada pada posisi tanaman tebu giling (PC) yang bibit awalnya dari demo varietas P3GI (yang menerapkan konsep pengujian pemuliaan partisipatif di kebun rakyat), maka regulasi pemeriksaan untuk sertifikasi tidak diperoleh jenjang kebun bibit sebelumnya. Untuk itu perlu dirumuskan aturan terbatas pada kebutuhan varietas tersebut agar sasaran pengawasan peredaran bibit bermutu tetap berjalan sebagaimana tugas pokok dan fungsi BP2MB/Direktorat Teknis Perbenihan Perkebunan.

Kasus yang menonjol adalah kebutuhan varietas masak awal (PS 862, KT, PS 881) dan masak tengah (PSJT 941, KK dan PS 882) yang begitu besar saat ini di wilayah kerja PTPN X dan PTPN XI untuk menggantikan BL dan PS 864, maka P3GI bersama pengawas peredaran BBP2TP mensikapi untuk melakukan monitoring dan evaluasi tanaman PC di kebun rakyat yang layak digunakan sebagai bibit. Kriteria tanaman tersebut layak digunakan sebagai bibit apabila pertumbuhan normal, murni dan sehat, bebas dari penyakit luka api. Sementara itu untuk keperluan bibit KBN, sumber bibitnya harus dilakukan perawatan air panas 50oC selama 2 jam untuk membebaskan penyakit kerdil ratoon.

Jawa Tengah
Jawa Tengah secara tipologi terbagi wilayah pantura barat (Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Brebes) yang sebagian besar pengelolaan tanaman tebu pada tanaman pertama (PC) dilaksanakan oleh PG, kemudian dilanjutkan keprasannya oleh petani; sementara itu tanaman tebu di wilayah selatan dan timur (Sragen, Tasikmadu, Klaten, Rembang, Pati, Kudus) hampir seluruhnya dikelola sebagai tanaman tebu rakyat.

Pembangunan kebun bibit di Jawa Tengah umumnya masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan tebu sendiri (TS) PG, dan kebutuhan bibit bagi tebu rakyat masih tersedia secara terbatas. Di wilayah Sragen, Tasikmadu, Rembang, Pati dan Kudus dimana sebagian besar tanaman tebu dikelola oleh rakyat sering hanya mengandalkan sumber bibit yang didatangkan dari Jawa Timur (Kediri, Jombang dan Mojokerto). Dana APBN untuk pembangunan kebun bibit di wilayah ini sering tidak terselenggara dengan baik dan digunakan untuk pembelian bibit yang tersedia di Jawa Timur. Oleh karena itu pengaturan penataan varietas melalui penjenjangan kebun bibit tidak berjalan secara baik. Sedangkan di wilayah pantura barat, pembangunan kebun bibit dapat berjalan baik untuk kebutuhan PC PG yang bersangkutan.

Penggunaan varietas bina umumnya mencapai lebih dari 90% okupasi lahan, dimana di wilayah pantura barat terdapat PS 851 (dominan), PS 861, PS 921, PS 951, PS 862 dan PSJT 941. Sedangkan di wilayah selatan dan timur terdapat BL, PS 864 dan PSJT 941 (dominan), PS 851, PS 951 dan PS 862 yang terbatas jumlahnya. Dari kondisi umum tampaknya wilayah pantura barat lebih banyak komposisi varietas masak awal sehingga pada awal hingga pertengahan giling memberikan konstribusi rendemen yang tinggi, tetapi ketika memasuki Agustus hingga akhir giling umumnya tebu sudah banyak kelewat masak dan sebagian mati yang berakibat rendemen turun dan bobot tebu turun. Sementara itu kondisi di wilayah selatan dan timur dominasi masak lambat sehingga rendemen awal giling kurang memuaskan.

Dari komposisi varietas yang ada, wilayah pantura barat perlu segera mengurangi dominasi PS 851 (umumnya >50%) hingga tinggal 30% dan menggantikannya dengan varietas masak lambat (PS 864 untuk tipologi tekstur berat, BL untuk tipologi tekstur ringan), sedangkan wilayah selatan untuk lahan yang mendapatkan pengairan cukup, perlu menanam varietas masak awal (PS 851 dan PS 862). Oleh karena itu secara prinsip komposisi varietas di wilayah Jawa Tengah sudah cukup baik, namun keseimbangan di tingkat wilayah yang kurang tertata varietasnya.

Untuk memperbaiki mutu sumber bibit di Jawa Tengah, kelompok tani dengan KPTR yang ada didorong untuk menyelenggarakan pembenihan sendiri, karena secara pasti kebutuhan bibit (yang setiap tahun harus mengadakan pembelian dari Jawa Timur) dapat dipenuhi oleh kelompoknya. Peran dinas, PG bersama P3GI dapat diperkuat untuk melakukan pembinaan terbentuknya kelompok tani pembenih tebu di Jawa Tengah, sekaligus penataan komposisi yang seimbang untuk memenuhi penataan varietas tebu dapat berjalan dengan baik.

Daerah Istimewa Yogyakarta
Secara umum tanaman tebu di Yogyakarta berada di wilayah Bantul, Sleman, Kulon Progo dan sedikit di Gunung Kidul. Terdapat 9 varietas yang berkebang di wilayah tersebut yang seluruhnya merupakan varietas bina, tetap yang menonjol adalah PS 851, PS 862, PS 864, PS 921, PS 951 dan BL. Pada tahun 2008 perkembangan PS 862 di wilayah cukup air sepert Bantul dan Sleman Barat demikian pesat, dan PSJT 941 serta PS 864 berkembang di lahan kering Kulon Progo dan Gunung Kidul.

Dilihat dari komposisi yang ada pada prinsipnya penataan varietas di Yogyakarta sudah cukup baik, namun jumlah bahan baku tebu untuk memasok PG Madukismo masih sangat kurang, sehingga harus mendatangkan tebu dari wilayah lain dari Jawa Tengah seperti Purworwjo, Temanggung, Magelang dan Sragen. Jumlah kebutuhan bahan baku tebu yang berasal dari luar wilayah inilah yang menjadi kendala utama, dimana penataannya tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu koordinasi yang lebih baik antar wilayah diperlukan agar sasaran peningkatan rendemen dari sumber bahan baku tebu dapat diatur berdasarkan konsep penataan varietas dan prestasi rendemen individu. Dengan demikian pasok untuk awal, tengah dan akhir giling dapat lebih dikendalikan.

Jawa Barat
Sebagian besar wilayah Jawa Barat yang melaksanakan penanaman tebu berada di Kabupaten Cirebon, Majalengka, Subang dan Kuningan. Di wilayah pantura dominasi lahan bertekstur berat, dan hanya sebagian kecil bertekstur ringan. Tipologi lahan umumnya tegalan, dan sebagian kecil berpengairan. Karena daerahnya cenderung datar, maka pada musim penghujan umumnya termasuk kategori tipologi yang rentan gangguan drainasi kebun. Oleh karena itu masalah utama tanaman tebu di Jawa Barat adalah kekurangan air di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan.
Beberapa varietas yang berkembang di wilayah tersebut antara lain PS 851, Kidang Kencana, PSJT 941 dan BL. Melihat kondisi tipologi lahan tersebut, dan berdasarkan kajian adaptasi varietas oleh P3GI, tampaknya PS 864 dan PSJT 941 mempunyai sebaran kesesuaian yang paling luas. Namun PS 864 masih sangat terbatas tersedia, yaitu hasil penangkaran dari kebun petani yang bekas digunakan sebagai percobaan adaptasi dan demo varietas oleh P3GI (pemuliaan partisipatif. Oleh karena itu untuk mempercepat perbaikan komposisi varietas yang ada di Jawa Barat, perlu segera memperbanyak pengadaan PS 864 dan PSJT 941.

Jawa Barat merukan daerah endemik penyakit luka api (Smut). Oleh karena itu dalam adaptasi untuk penataan varietas di wilayah tersebut perhatian yang utama adalah ketahanan terhadap penyakit tersebut. PSJT 941 dan seri yang lain yang dilakukan seleksi awal di Jatitujuh merupakan calon varietas yang tahan terhadap penyakit luka api. Oleh karena itu dorongan untuk pemuliaan ketahanan penyakit luka api pada varietas tebu perlu diperkuat untuk mengatasi masalah di wilayah tersebut.

Sulawesi Selatan
Identifikasi terhadap beberapa varietas yang berkembang di PG Takalar, tampaknya beberapa varietas bina telah tertanam di kebun bibit, antara lain PS 851, PS 862, PS 864, PS 891, BL dan KK. Beberapa varietas non-bina yang banyak berkembang di PG Takalar, antara lain Q 81, TK 163, TK 386 dan Triton. Untuk pengembangan tebu rakyat dengan konsentrasi pada lahan perbukitan sebaiknya hanya disarankan menggunakan varietas PS 864 dan PSJT 941. Sementara itu untuk pengembangan tebu rakyat dengan konsentrasi pada lahan alluvial dengan sumber pengairan yang cukup, disarankan untuk dapat mengembangkan varietas masak awal (PS 862 dan KK) dengan masa tanam Mei-Juli dan ditebang awal giling. Sementara itu PG Camming masih dalam pembenahan, dimana rehabilitasi tanaman lama dengan varietas PS 83-1477, Q 81 dan Triton yang tidak murni. Sambil melaksanakan adaptasi varietas, sementara itu varietas CM 22 (ROC), CM 2021 dan SR 02 mulai dikembangkan di HGU.

Beberapa varietas bina yang jumlah bibitnya masih terbatas, antara lain PS 851, PS 862, PS 864, PSBM 901 dan Kidang Kencana (KK) segera diperbanyak dengan penjenjangan yang baik.

Sumatera Utara
Secara umum varietas yang berkembang di Sumatera Utara adalah F 156 (BZ 134). Beberapa varietas bina yang telah ditanam dalam jumlah terbatas antara lain BL, PS 891 dan PSBM 901. Sementara itu melihat tipologi wilayah dan curah hujan di Sumatera Utara, beberapa varietas bina yang direkomendasi segera dilakukan kajian adaptasi adalah PS 862, PS 881 dan KK, bersama-sama PS 891 dan PSBM 901 segera dipeluas penangkarannya. BL tampaknya sangat rentan terhadap penyakit hangus daun yang telah berkembang di Sumatera Utara, dan F 156 yang telah banyak terserang penyakit kerdil ratoon segera dibongkar diganti varietas baru. Sumber bibit F 156 yang masih sehat dalam jumlah terbatas masih dipertahankan untuk komposisi di pertanaman tebu rakyat.

Penyakit hangus daun dan luka api yang telah tampak di wilayah Sumatera Utara akan menjadi kendala besar dalam pengelolaan varietas tebu di wilayah tersebut. Oleh karena itu adaptasi varietas baru mulai memperhatikan sifat ketahanan terhadap ke dua penyakit tersebut. PSJT 941 yang tahan penyakit luka api dan PSBM 901, KK dan PS 881 yang tahan penyakit hangus daun dapat dipertimbangkan sebagai calon varietas yang segera diperluas apabila adaptasinya cukup baik.

Lampung
Tanaman tebu rakyat di Lampung berkembang luas di wilayah kerja PG Bungamayang, dan dimulai di wilayah kerja PT Gunung Madu Plantation (GMP). Alokasi dana pembangunan kebun bibit dan rehabilitasi tanaman di wilayah tersebut dikelola oleh KPTR Ratu Manis di Bungamayang. Penyelenggaraan kebun bibit dilaksanakan oleh PG, dengan mengingat sebagian besar tebu rakyat di lahan tadah hujan maka varietas yang disediakan adalah PS 864 dan KK. Tampaknya kedua varietas bina tersebut sangat cocok dan diminati petani untuk menggantikan varietas BL yang terserang penyakit hangus daun yang sangat parah di wilayah Lampung. Varietas KK dapat ditebang untuk awal sampai tengah giling, dan PS 864 ditebang pada tengah sampai akhir giling.

Pola kemitraan rintisan tanaman tebu rakyat dilakukan oleh PT GMP. Untuk memenuhi aturan peredaran benih, maka pada tahun 2008 R&D PT GMP telah mengusulkan varietas hasil pemuliaannya yang berkembang di HGU, yaitu RGM 97-8752 dan RGM 97-10120 untuk dilepas menjadi varietas bina menjadi GMP 1 dan GMP 2. Dengan demikian setidaknya terdapat 5 varietas bina yang dapat dikembangkan di Lampung. Sementara itu PSJT 941 yang tampaknya cocok berkembang di HGU PG Bungamayang juga mulai diadaptasikan dan diperbanyak bibitnya untuk tebu rakyat di Bungamayang.

Lampung merupakan daerah endemik penyakit hangus daun (Leaf Scorch). Pengembangan varietas di wilayah tersebut diharapkan memperhatiakan ketahanannya terhadap penyakit tersebut. PSBM 901, PS 881, GMP 1 dan GMP 2 merupakan varietas yang tehan penyakit hangus daun. Hal utama yang perlu diperhatikan agar sumber bibit tebu dari wilayah Lampung tidak diedarkan ke wilayah lain. Apabila terpaksa harus didatangkan dari Lampung, jumlahnya terbatas dan bebar dari daun klaras yang membawa spora penyakit hangus daun, yang mampu menyebar kepada varietas lain yang tidak teruji di wilayah yang lain.

Gorontalo
Beberapa varietas di PG Gorontalo masih didominasi PS 58 dan BZ 148. Sementara itu beberapa varietas lainnya seperti PS 80-1649, PS 862 dan varietas ex RNI masih sedikit. Untuk tahap pertama langkah yang dapat ditempuh adalah mengoptimalkan sumber bibit yang telah tersedia di PG, antara lain PS 58, PS 80-1649 dan PS 862.

Mengingat masih terbatasnya jumlah varietas tebu yang ada, maka segera dilakukan percepatan perbanyakan varietas dari koleksi Litbang PG yang menunjukkan kesesuaian dengan tipologi lahan tebu di Gorontalo. Beberapa varietas bina yang sudah tersedia di koleksi Litbang antara lain PS 851 PS 862, PS 864, BL dan KK. Disamping itu sedang dilakukan kajian adaptasi varietas harapan dengan kode Lakeya (LK) 01, LK 04, LK 06 dan LK 12. Rekomendasi terbatas diberikan untuk varietas harapan selama 2 tahun agar diikuti data adaptasinya untuk proses pengusulan pelepasan.

Kalimantan Barat
Kalimantan Barat, khususnya di Teluk Keramat, Kab. Sambas merupakan daerah rintisan tanaman tebu untuk gula merah.Terdapat dua varietas yang bertahan sampai saat ini yang digunakan sebagai varietas tebu yang cocok untuk pembuatan gula merah, yaitu CP 52-21 dan NCo 376. Melihat potensi rendemen gula merah yang dihasilkan dan kesesuaian pertumbuhan, tampaknya CP 51-21 lebih disukai dan dikembangkan lebih luas oleh masyarakat. Sejak tahun 2007, varietas unggul baru PS 862, PS 864 dan PSJT 941 telah didatangkan dari Pasuruan. Untuk mengetahui daya adaptasi varietas unggul baru segera dilakukan kajian adaptasi atas varietas-varietas tersebut. Untuk itu adaptasi varietas unggul baru di wilayah Sambas segera dilakukan agar terdapat alternatif pendamping CP 51-21 yang telah lama berkembang, dalam memperbaiki komposisi varietas komersial untuk gula merah rakyat di Kalimantan Barat.

Sumatera Barat
Budidaya tanaman tebu di Sumatera Barat masih sangat awam. Terbukti dari sekitar 3.000 ha tanaman tebu di Kabupaten Agam masih sangat sederhana dikelola dengan teknik budidaya masyarakat sebagaimana tanaman tahunan. POJ 2878 dan POJ 100 tampaknya cukup berkembang di wilayah terebut, dikelola untuk bahan baku industri gula merah. Evaluasi yang ada di wilayah tersebut belum ditemukan hama penggerek batang dan penggerek pucuk yang dapat mengganggu varietas tersebut. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar tidak mendatangkan bibit tebu dari wilayah lain tanpa dilakukan proses perawatan air panas, agar sumber hama penggerek tidak terbawa ke wilayah Agam.

Rintisan tanaman tebu Kabupaten Dhamasraya oleh swasta (PT Semesta Sejahtera), yang telah mendatangkan bibit dari P3GI, membawa dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara sudah mulai diadaptasikan. Beberapa varietas yang tampaknya cocok dikembangkan di wilayah tersebut antara lain PS 862, PS 864, PSJT 941 dan Kidang Kencana. Dari pengamatan kebun telah tampak beberapa penyakit daun (noda kuning, karat daun) dan hama penggerek batang dan penggerek pucuk di wilayah tersebut. Hal ini dimungkinkan karena metode untuk mendatangkan bibit tebu tidak melalui prosedur perawatan air panas, kecuali yang didatangkan dari P3GI (dalam bentuk budset). Perusahaan swasta telah menerapkan teknologi budidaya yang sesuai standar. Oleh karena itu untuk pembelajaran petani tebu di wilayah lain (Kab. Agam) dapat diajak studi banding ke Dhamasraya untuk memperbaiki teknik budidaya tebu di wilayah tersebut (Ir. Eka Sugiyarta, MS, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia).

Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar